Jadilah Seperti Lebah

artikel ini saya kutip dari http://www.dakwatuna.com/2007/jadilah-seperti-lebah,,bertujuan agar hak paten terhadap “lebah” tidak diklaim oleh golongan2 tertentu.. :P karena lebah adalah perumpaman bagi  orang yang beriman…

dakwatuna.com – Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).” (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)

Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul. Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan dengan manusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi, apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akan selalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Maka jadilah dia orang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., “Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”

Kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, ia akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ia lakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera.

Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah. Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentu saja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt. seperti yang Dia firmankan, “Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 68-69)

Sekarang, bandingkanlah apa yang dilakukan lebah dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin, seperti berikut ini:

Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih.

Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbeda dengan lalat. Serangga yang terakhir amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.

Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:

Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168)

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A’raf: 157)

Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian, penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segala kekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits (kebusukan).

Mengeluarkan yang bersih.

Siapa yang tidak kenal madu lebah. Semuanya tahu bahwa madu mempunyai khasiat untuk kesehatan manusia. Tapi dari organ tubuh manakah keluarnya madu itu? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Dia produktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatang lain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikan. Belakangan, ditemukan pula produk lebah selain madu yang juga diyakini mempunyai khasiat tertentu untuk kesehatan: liurnya!

Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebajikan. “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)

Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapi al-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentuk ibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakili dengan kalimat “rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu” (irka’u, wasjudu, wa’budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.

Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dari prasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-kata kecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lain melainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyak manusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu, dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia.

Tidak pernah merusak

Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi. Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apa pun: baik material maupun nonmaterial. Bahkan dia selalu melakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengan cara-cara yang tepat. Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, dan ibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknya dengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu. Jika kerusakan terjadi akibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itu dan mengajukan koruptor ke pengadilan.

Bekerja keras

Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya (saat “menetas”), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuk telur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, dengan membawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangat berkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukmin untuk bekerja keras? “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Alam Nasyrah: 7)

Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagi dalam upaya menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang banyak yang cinta keadilan, namun kebanyakan manusia –kecuali yang mendapat rahmat Allah– tidak suka jika dirinya “dirugikan” dalam upaya penegakkan keadilan.

Bekerja secara jama’i dan tunduk pada satu pimpinan

Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Mereka pun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugas sendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, mereka akan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketika ada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu) untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnya sikap orang-orang beriman. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)

Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu

Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan “kehormatan” umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya di tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari. Tapi jika ada, tidak lari.

Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orang beriman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikan binatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surah: An-Nahl. Allahu a’lam. [

jadilah aset mereka

berikut ini adalah tugas tulisan yangbaru jadi 6jam sebelumdikumpulin….

semoga bisa nambah2… :D

Disusun oleh

Noermawati

07/252355/TK/32862

dosen : M.Wazis Wildan

Wujud bakti terbaik : Jadilah Aset Mereka

Cinta pada orangtua adalah utang yang tak pernah mereka tagih, tapi juga tak pernah bisa kita lunasi (Ahmad Zairofi, 2007)

Begitulah adanya. Setiap detik dalam hidup kita tak pernah lepas dari keberadaan orangtua. Kita bisa berdiri tegak disini, bisa merasakan nikmatnya hidup, merasakan udara bebas, tak secuil pun tanpa peran orangtua. Seberapapun ada yang masih membersamai, ataupun telah pergi, kasih sayang mereka tak pernah lekang dimakan waktu. Pengorbanan mereka tak terhitung dan memang takbisa dihitung. Tak lekang waktu. Seolah mereka bersusah payah membesarkan anak-anaknya hanya untuk ditinggal pergi di hari tuanya.

KEUTAMAAN

Inilah bedanya kasih orangtua dengan kasih anak. Bahkan ada sebuah ungkapan. Seorang ibu bisa saja membesarkan sepuluh putranya dengan penuh kasih sayang. Tapi belum tentu seorang putranya bisa membahagiakan hati sang ibu. Dahysat bukan. Tak heranlah jika dienul haq ini begitu menjunjung tinggi hak-hak orang tua terhadap anaknya. Bisa dilihat dalam landasan syar’I berikut.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia( Al- Isra’ 23)

Betapa agungnya perintah itu. Perhatikanlah bahwasanya perintah berbakti pada orangtua tepat berada dibawah kedudukan tauhid (tidak menyembah selain Allah).

Padahal seperti yang kita ketahui kalau mengakui keesaan Allah dan tidak memiliki sesembahan selain Nya adalah keutamaan syariat ini. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya perkara birrul walidain ini di mata Allah.

Ibnu Mas’ud berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rosululloh, ‘Amalan apakah yang paling dicintai Alloh?’ Beliau menjawab, ‘mendirikan sholat pada waktunya,’ Aku bertanya kembali, ‘Kemudian apa?’ Jawab Beliau, ‘berbakti kepada orang tua,’ lanjut Beliau. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Alloh.’” (HR. Al Bukhori no. 5970)

Begitu agungnya hingga memiliki kedudukan diatas jihad fi sabilillah.

HOW TO DO

Begitu utamanya birrul walidain ini, sehingga betapa bodohnya kita jika tak memuliakan mereka. Lalu apa yang mesti kita lakukan sebagai waujud bakti kita?

Marilah kita belajar dari salah seorang dari pemuda Ashabul Kahfi. Salah satunya bertawasul dengan amal baktinya mendahulukan orang tua dibanding anak dan istrinya. Begitulah seharusnya kita memperlakukan orangtua. Ketika mereka masih hidup kita diwajibkan mempergauli mereka dengan cara yang baik. Merendah terhadap mereka, senantiasa membahagiakan dan patuh (selama tidak melanggar syariat), dan jangan melukai mereka baik hati apalagi fisik..

“Tangisan kedua orang tua termasuk kedurhakaan yang besar.” (HR. Bukhari, Adabul Mufrod hlm 31. Lihat Silsilah Al Ahaadits Ash Shohihah karya Al Imam Al Albani, 2.898)

bila orangtua telah tiada..maka kita wajib menunaikan kewajibannya, menyambung silaturahim dengan sanak kerabatnya, serta menunaikan wasiatnya.

Dan yang terpenting adalah doakan mereka. Ini berlaku baik orangtua kita masih hidup atau telah tiada.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”(Al-Isra’ 24)

PENGABDIAN TERBESAR

Seperti yang diungkapkan diawal, betapapun kita berusaha membalas jasa kedua orang tua, takkan mungkin hutang itu terlunasi. Takkan seimbang kedudukan kita pada mereka. Seberapapun besar harta dunia yang kita berikan, perhatian yang selalu tercurahkan, takkan terhitung dosa kita dan khilaf kita pada mereka di setiap detiknya. Mungkin pula secara sadar atau tidak kita sering melukai hati mereka.

Jadi cara terbaik adalah dengan menjadi aset mereka setelah mereka wafat. Karena itulah yang sangat mereka butuhkan. Dimana hari saat tak ada lagi kesempatan beramal, saat begitu berharganya amalan kebaikan sekecil apapun, saat dimana kesulitan dan beban tanggung jawab hidup, aliran doa seorang anak yang sholeh untuk kedua orang tuanya merupakan aset yang tak ternilai harganya. Lebih dibutuhkan daripada dunia seisinya.

Rasulullah SAW bersabda, “Bila seorang anak Adam

wafat, maka amalnya terputus kecuali tiga hal:

[1] Shadaqah jariah,

[2] Ilmu yang bermanfaat dan

[3] Anak shalih yang mendoakannya.

(HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad)

Sehingga tak ada kata lain, belajarlah menjadi anak yang sholeh. Hingga doa kita kan menjadi bentuk tertinggi bakti kita. Karena itu merupakan amal jariah bagi orang tua.

Semoga bisa menjadi renungan buat kita semua. Termasuk saya. Wallahu a’lam bishshawab.

DAFTAR PUSTAKA

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/bakti-pada-orang-tua.html

http://www.almanhaj.or.id/content/2123/slash/0

http://beranda.blogsome.com/2006/09/06/berbakti-pada-orang-tua/

majalah tarbawi edisi 164 Th.8 Ramadhan 1428 H

http://shodaqoh.wordpress.com/