nanar
Rontokan luka itu selalu terliaat membekas di kedua matanya yang lelah
Berat wajahnya menyiratkan beban yang jarang dimengerti
Dan aku berada disini untuk menempati posisiku
Menatap dengan nanar sambil memegang erat tangannya yang kian memanas
Sengal nafas itu menyeret rangkaian cerita yang panjang
Sebuah karang yang aku pun tak tahu bagaimana harus merabanya
Yang ketika ku ulurkan sebongkah bata
Tak disangka ia langsung membuat menara
Kekokohan yang sering membuatku rapuh tak mengerti
Selalu bertanya,,,mungkinkah bila aku
Aku kan sanggup menanggungnya
Birunya sendu menggema jiwa
Melihat luka yang mengelupas
Meneteskan embun yang membasahi relung hati
Semakin ku takluk akan kenanaran
Semakin aku merasa menjadi seorang pecundang
Allah,,,,,,
Laa haula wa laa quwwata illa billah
September 25, 2010
bagus mbak
aduhhh,,padahal tulisan geje